Rumah Jawa dan Legenda Dewi Sri

Pembagian ruang pada rumah Jawa banyak dipengaruhi oleh faktor budaya. Kebudayaan agraris merupakan salah satu faktor yang memiliki peran cukup besar dalam menentukan fungsi ruang.

Kegiatan agraris merupakan kegiatan yang mengalami proses panjang dan memakan waktu hingga ribuan tahun (tidak begitu saja terbentuk) di dalam sejarah kebudayaan manusia. Masa kejayaan masyarakat agraris bermula pada saat berakhirnya masa mengumpulkan makanan (food gathering) dan perlahan tergantikan perannya ketika revolusi industri dimulai. Saat itu manusia berhenti mengumpulkan makanan karena mereka menemukan cara yang lebih baik untuk hidup yakni dengan mengolah tanah pertanian dan menjinakkan hewan.

Masyarakat agraris dan kebudayaan bermukim memiliki kaitan yang erat, sebab di saat manusia mulai bertani dan beternak, manusia sudah tidak mungkin lagi hidup berpindah-pindah. Dengan kata lain: muncul ide berupa kebutuhan untuk menetap, menciptakan rumah, dan mengembangkannya menjadi permukiman sederhana. Hal ini yang menyebabkan mengapa kebudayaan agraris punya pengaruh dalam pengaturan ruang pada rumah tradisional, salah satunya pada rumah Jawa yang akan dibahas berikut.

Senthong Tengah yang Sakral
Masyarakat Jawa adalah salah satu kelompok yang tidak hanya menjadikan bertani sebagai mata pencaharian tapi juga urat nadi seluruh kehidupan. Kepercayaan masyarakat Jawa di masa sebelum masuknya Islam banyak dipengaruhi oleh kegiatan agraris; begitu pun dengan peran ruang-ruang pada tempat tinggal. Termasuk legenda Dewi Sri yang memiliki ruang khusus di dalam rumah. Senthong tengah merupakan ruang yang mewadahi kebutuhan manusia untuk melaksanakan ritual yang erat kaitannya dengan pertanian dan Dewi Sri.

Senthong memiliki arti ruang yang diberi sekat. Terletak di sisi belakang rumah, senthong berupa bilik/kamar tertutup yang memiliki bukaan untuk masuk (bisa berdaun pintu atau dipasangi tirai). Ada 3 buah senthong pada setiap rumah Jawa. Dalam rumah Jawa—yang selalu menghadap ke selatan—ketiga senthong ini saling berjajar, disebut senthong barat, senthong tengah, dan senthong timur.

Fungsi senthong sangat berkaitan erat dengan kegiatan bertani. Dalam buku berjudul Omah karya Revianto Budi Santosa, dipaparkan dengan jelas perihal ruang-ruang pada beberapa tipe rumah Jawa di Yogyakarta. Dalam salah satu rumah yang ia kaji, senthong barat biasa digunakan untuk penyimpanan bahan makanan dan senthong timur untuk menyimpan alat pertanian. Yang teristimewa adalah senthong tengah, tempat yang sengaja dikosongkan (hanya ada sebuah amben rendah untuk menyimpan barang berharga) dan tidak dipakai berkegiatan apapun.

Ruang senthong tengah dianggap berada di tempat yang terbaik di rumah sehingga diperlakukan sebagai tempat paling suci, tempat Dewi Sri “berkunjung”. Suasana dalam ruang ini hening dan mistis, terpisah dari kegiatan sehari-hari yang bersifat keduniawian. Di ruang ini, secara periodik pemilik rumah melakukan ritual pemujaan terhadap arwah nenek moyang (dipersonifikasikan sebagai Dewi Sri). Ritual meletakkan sesajen dilakukan sebagai penghormatan terhadap sang pelindung padi, agar senantiasa diberi hasil padi yang melimpah dan kesejahteraan dalam rumah tangga.

Berangsur-angsur Lenyap
Peran senthong tengah pada rumah Jawa demikian besar karena ruang ini dapat berlaku sebagai penghubung antara tempat tinggal, lahan pertanian, dan dunia arwah pelindung manusia. Namun seiring berjalannya waktu, ruang ini pun berangsur-angsur kehilangan peran. Masuknya agama-agama modern ke Jawa merupakan salah satu penyebabnya. Ajaran agama monoteis tidak membenarkan ritual peletakan sesajen dan pemujaan sejenis.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan senthong adalah yang paling pertama “hilang” fungsinya. Revianto memberi contoh pada salah satu rumah yang ia amati, karena alasan finansial keluarga maka senthong tengah adalah ruang yang terpaksa disewakan. Hal ini mereka lakukan karena senthong tengah dianggap tidak lagi memiliki fungsi penting. Pada rumah yang lain, fungsi senthong tengah menjadi tempat menyimpan benda-benda peninggalan yang sudah tidak terpakai tapi harus dilestarikan. Ruang ini kini hanya menjadi nostalgia kebudayaan yang pernah jaya di masa lalu.

Sang Hyang Sri, Dewi Pelindung Padi
Siapakah Dewi Sri?

Dewi Sri—menurut Budiono Herususanto dalam naskah skripsi berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa: Sebuah Tinjauan Filsafati—merupakan tokoh simbolik masyarakat Jawa sebagai hasil asimilasi paham animisme dan paham Hindu. Di kalangan masyarakat petani di Jawa, kepercayaan pada Dewi Sri cukup mendalam dan tercermin pada perlakuan mereka terhadap padi. Dewi Sri juga melambangkan rumah, tanah, kestabilan, dan kesejahteraan.

Dalam legenda Jawa, Dewi Sri pernah dikutuk oleh ayahnya menjadi ular sawah. Dia kemudian berkelana dan selalu berpesan pada tiap orang agar memberikan sesajen didepan petanen (kamar tengah) agar sandang pangannya tercukupi. Itulah sebabnya senthong tengah di rumah Jawa disucikan dan pada ruang ini diberi gambar ular naga yang melambangkan kemakmuran. Dahulu, apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah, penghuni rumah menganggapnya sebagai pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan malah memberi sesaji. (mya / Foto: Traditional Architecture of Indonesia)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: